Tuesday, 29 September 2015

Perjuangan, belum berakhir !!



Semasa kini, 22 tahun aku hidup. Hidup bagai burung yang ingin terbang namun sayapku belum mampu untuk mengepak. Bingung, iya tentu hal itu selalu datang bahkan masa demi masa rasa bingung menjadi candu dalam diriku. Aku selalu merasa bahwa aku tidak mampu berbuat apa-apa. Hanyalah seorang anak yang selalu merengek dan menangis tersedu. Hanyalah seorang sahabat yang tidak berhenti mengeluh dan membuat kekesalan. Dan juga, hanyalah seorang perempuan yang masih belum percaya diri “apa yang harus aku tunjukkan?”

Seiring waktu berjalan, aku belajar. Belajar bagaimana memahami hidup. Bagaimana agar aku tetap bahagia dan tertawa di bumi ciptaanNya. Agar aku tidak berpikiran pendek untuk cepat-cepat ke SurgaNya. “Hidup adalah garisNya”. Dia-lah yang menentukan kapan kita lahir dan kapan kita harus berakhir pada bungkusan kain putih dan bersemayam ditempat kita diciptakan. Itulah hal kecil yang membuatku tersadar, bahwa sampai detik ini aku masih disini.

Banyak hal indah yang selalu aku genggam, dan hal buruk juga tidak lewat terjadi. Hal buruk dan hal baik jika dihitung keseimbangannya maka hal buruklah yang akan membuat hal baik berada di nilai paling rendah. Iya, aku berproses dan belajar dari segala hal buruk yang terjadi. Aku tidak sama sekali menyesali ataupun takut, namun aku bersyukur karna setidaknya itu adalah peringatan. “ada hikmah disetiap cobaan yang datang” , kalimat itu masih teringat jelas dipikiranku sampai detik ini.

22 tahun ini, aku berhasil meraih mimpiku. Kecilku hanyalah berisi tentang angan-angan dan khayalan. “nanti aku jadi apa ya?” “aku bisa sukses nggak ya?”- hal kecil seperti itulah yang dulu aku khayalkan. Namun, BerkatNya lah yang membuatku bisa melewati semua langkah demi langkah itu. Saat aku berhasil menyelesaikan 6 tahun di Sekolah Dasar, 3 tahun ku di Sekolah Menengah Pertama, 3 tahun ku di Sekolah Menengah Atas, dan 3,8 tahun Ku di Universitas. Siapa yang menyangka?? . bahkan aku pun masih belum percaya. Namun, lagi-lagi Allah memberikan jawabanNya. Inilah aku, inilah jalan yang harus aku lalui, inilah tempat yang harus kamu singgahi, dan inilah perjuangan yang harus aku jalani.

Namun, ini bukanlah akhir dari segalanya. Karna semua keberhasilan bukanlah puncak dari segalanya. “jika kita keluar dari pintu yang satu, maka kita harus siap memasuki pintu yang lainnya”- sekali lagi, kalimat itu masih selalu aku ingat.

PERJUANGAN, belum berakhir. Selagi ada jalan maka disitulah bukan waktunya kita berhenti, tapi teruslah berjalan sampai kita tidak bisa lagi mencari. Sukses bukan seberapa tinggi pendidikan kita, juga bukan seberapa banyak uang kita, tapi sukses (bagiku) adalah saat kita benar-benar menciptakan kebahagian untuk diri kita dan orang lainnya.

Catatan Kecil :

-          Alhamdulillah akhirnya bisa mendapatkan gelar Sarjana. Semoga keberkahanNya tidak lepas dari segala hal apapun. Terimakasih Ibu & Babe untuk semuanya, Terimakasih adikku, saudara-saudaraku, & seluruh sahabatku untuk dukungan dan do’anya. Terimakasih :)

(                (@ekaayl )

Monday, 31 August 2015

Wanita itu.....

Orang yang berpikir kalau kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa mereka rengkuh setiap saat,.. betapa bahagianya mereka?

Wanita itu… selalu saja menjadi gugup setiap kali ia merasa terlalu bahagia. Bagi wanita itu… kebahagiaan layaknya balon tiup yang biasa dimainkan saat masih kecil. Disaat ia menyentuh bola balon yang berwarna pelangi disekelilingnya… balon tersebut pecah.

Dihadapan kebahagiaan, wanita itu… menyerah sebelum ia berusaha menggapainya.
Setiap saat wanita itu melangkah ke dunia luar, ia sering merasa tak terlihat. Dia terdorong kesana kemari dan terinjak.. dan saat ia berbaur di dunia keramaian, dia seolah tidak terlihat dimata orang lain. Itu sebabnya wanita itu… bersembunyi di dalam kamarnya. Kamar yang kecil itu terasa begitu nyaman baginya. Bagai sangkar burung yang sayapnya telah patah. Di dalam ruangan itu, ia dapat bernapas dengan bebas. Dia tidak pernah membayangkan dunia luar, atau merindukan dunia di luar sana..

Setidaknya sampai saat ini…
setidaknya sampai saat ini…

Wanita itu… percaya bahwa takdir seperti tali yang secara diam-diam menghubungkan hatinya dengan orang lain. Dengan tali yang tak terlihat itu, dia merasakan getaran walau hanya sedikit. Yang menghubungkan orang untuk merasakan dan memahami satu sama lain.

Saat hati seseorang tiba-tiba terhubung dengan terlalu banyak hati, membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Lalu takdir…. Tolong berhenti menarik hatiku untuk terhubung dengan kuat.
Bagi wanita itu, sebuah luka mirip seperti  terjatuh kedalam air yang dalam. Semua penonton yang tidak tahu seberapa dalamnya luka itu kerap bertanya, kenapa dia tidak dapat menarik dirinya dari dalam air itu. Ada terlalu banyak orang yang melupakan dan meremehkan luka orang lain. Wanita itu.. tidak mau mendengarkan perkataan kosong itu. Setidaknya dari satu orang…

Setidaknya… dari satu orang itu.

Ada waktu dimana kau mengira seseorang  yang datang sambil lalu malah meninggalkan jejak dihatimu saat mereka pergi. Hanya ketika dia pergi, ia menyadari dalamnya arti pertemuan mereka.

wanita itu… percaya bahwa kehidupan adalah sebuah penyesalan yang datang terlambat.
Pintu wanita itu.. tak pernah terbuka untuk waktu yang sangat lama. Di depan pintunya yang berdebu, ia menemukan undangan menuju dua dunia yang sangat berbeda. Seseorang yang datang mendekat padanya seperti hembusan angin segar. Dan seseorang yang menghalangi angin seperti tempat perlindungan dalam badai.


Untuk pertama kalinya, wanita itu menjadi takut akan hasratnya untuk membuka pintu. Yang sekarang sedang ia lihat secara diam-diampun, wanita itu… masih takut untuk begitu dalam membawa ke dasar hatinya. Wanita itu.. menyikap luka dan perlahan-lahan menunggu agar orang itu membuka pintunya.


                                                                               -@ekaayl-

Kutanyakan Senja itu...



Senja masih saja bertahan. Mempertahankan keasriannya yang memesonakan ratusan pasang mata. Disenja itu aku menaruhkan sedikit asaku bahwa cinta yang sejatinya masih terpendam berharap  menemukan persinggahannya.

Dengan penuh harapan kukatakan kepada sang senja, dimanapun dia berada, apapun pekerjaannya, dan bagaimana parasnya, kelak sang dermaga cinta itu akan  menyambut hatiku untuk bersinggah lalu menetap dihatinya.

Terkadang rasa iri menyelimutiku, melihat para hawa bercumbu manis dengan sang adam yang saling mengutarakan isi hatinya. Iri melihat mereka yang saling menyatukan jemari, berjalan seiringan ditaman, bergurau manis nan manja mengisi keheningan.
 Lantas diriku disini menatap hati yang kosong, menunggu sang dermaga cinta menarik hatiku. Melihat jemari yang selanya belum diisi dengan jemarinya, berjalan dalam kesendirian, serta hanya mampu bercanda dengan diri sendiri, berceloteh kecil serta bertanya-tanya siapakah sosok pujangga yang mendermakan cintanya untukku.
Kini aku tertegun, terdiam, terpaku,..
 
mengoyakkan gejolak ini agar tak lagi mengelu-elukan cinta yang belum mampu kugenggam, hanya mungkin waktu yang akan menjawab segala kerisauan yang tengah tergenang. Menggenangkan hati yang tak kunjung surut oleh derasnya aliran cinta. Cinta yang dahulunya aku dapatkan, tetapi kini telah menghilang hingga belum mampu untuk aku gantikan. Sejuta tanya tentang kapan waktu itu akan terjawab untuk menjawab segala risau yang menumpuk dihatiku.

 Kini aku mengabadikan dalam diriku bahwa sejatinya hanya cintalah yang nantinya akan tumbuh, bersemi, hingga akhirnya layu. Perlu cara yang ampuh bagaimana menghidupkan kembali cinta yang telah layu.

entahlah, bahkan senja pun tak mampu menjawabnya….


                                                                                       -@ekaayl-